The New Stuff

Sejalan dengan pendapat mas Davidlama Kurn di postingan FB Part II, ( saya pembelajar yang masih awam ).

Memang untuk lulusan IT tidak semuanya masuk dunia IT, entah lah apa masalahnya : kampus, lingkungan, salah jurusan, asal dapet ijasah. Yah begitulah alasan masing2. Apa perlu miris ?, kalau ekstrimnya sih, “sudah lah, kompetisi juga berkurang kok”, tapi kita perlu berharap kedepannya agar lulusan IT mampu berkecimpung di bidang IT (Kalau saya sih kerjanya kadang di bidang datar, bidang miring, bidang terbalik, pokoknya masih acak kadut lah .... )

Untuk membuat start up memang tidak hanya perlu skill teknis, tapi juga perlu kemampuan manajerial. Ada yang dominan dan ada yang seimbang. Juga kemampuan membaca kebutuhan lingkungan dan menemukan ide menarik. Sayapun masih terlalu bodoh untuk menemukan ide, saking pinginnya "ber ide" sampai sampai mengasingkan diri dilingkungan baru, perlu teman baru, lingkungan baru, (Pastinya tempat refreshing baru).

Lalu untuk istilah “Murtad IT”, dari manakah harus dikoreksi ?, siapa saja yang ikut andil ?. Kampus ? kamus sudah mengklaim memberikan fasilitas dan layanan yang terbaik, Lingkunganpun sudah dibuat sebaik mungkin (ada Lab, Cafe, Wifi, dll (karaokean belum)). Mahasiswa? mahasiswapun juga sudah mengklaim sudah berusaha sebaik mungkin, “mengikuti kuliah”, “mengumpulkan tugas”, “absen”, de el el (prosedural lah). Lingkungan ? lingkunganpun sudah mengklaim sudah baik, pembentukan kampung mahasiswa, penetapan jam belajar, de el el.

Untuk yang punya skill teknis "oke" terkadang terlalu ke kiri, semua siap bekerja by command ataupun by order (wah nyinyir diri sendiri nih, gpp, proses belajar kok ), yah semacam robot gitu. Ada teman (Muhammad Habib Algifari) yang mengistilahkan “kuda lumpingnya masih makan beling”.

Memang start up perlu modal, sayapun mencoba seadanya sedikit demi sedikit, mencoba tanpa mencari investasi. Ya hasilnya memang seperti keong jalan, lambat banget, antara mikir prospek dan mikir perut, kadang berhenti lalu mikir, “lanjut ape kagak”, lanjut deh. Vacumm ?, pasti ada rasa itu, tapi semua harus di kalahkan. Beberapa teman memang termakan dengan istilah investasi, dengan pola perjanjian tertentu hingga menempatkan diposisi “ter perintah”-kan. Sehingga tidak punya nilai tawar, skill IT pun dihitung bak menghitung keringat dan kepulan asap rokok. Dengan mengagungkan uang, membuat investor diposisi paling dominan. Pinjaman Bank ?, ampun deh, ane belum kepikiran.

Bahkan beberapa kali ada yang mengajukan ide klasik (yang menurutnya baru dan cemerlang), meminta aplikasi tertentu. Mendengar harga VPS pun, “Kok mahal ya ?, hosting biasa aja gimana ?”. Yae lah bro, masih mau jadi investor ?. Pasti mikirnya aplikasi lebih sepele(murah) dari VPS ?.

Mungkin yang terbaik dilakukan adalah berdiri dikaki sendiri, menunjukan performance, nantinya ventura capittal pun bisa melirik. Kita tingkatkan aja posisi tawar kitar.

Similar Post You May Like